Meski pernikahan kontrak, aku tak punya pilihan selain menyetujuinya. Syarat yang “suamiku” tetapkan cukup sederhana: jangan mengharapkan cinta. Jalani hidup sebagai pasangan yang tampak serasi di mata orang, lalu bercerai saat waktunya tiba. Aku berniat menurutinya tanpa banyak bicara dan berpisah secara baik-baik. Tapi semuanya berubah setelah malam yang kuhabiskan bersamanya. Seiring berjalannya waktu, pernikahan yang awalnya didasari kepentingan bersama mulai melibatkan perasaan yang lebih dalam…