Desa Matahari awalnya bergantung pada energi fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas. Ketergantungan ini akhirnya membuat desa mengalami krisis energi. Dari situ muncul kesadaran untuk beralih ke energi alternatif yang ramah lingkungan dan sesuai potensi desa. Berkat gotong royong, warga pun menemukan solusi agar desa tetap terang dengan energi baru dan hemat energi.